Artikel berita lapak

Sistem Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

Heri Priantoro, S.Si., owner PT Sain Asia Prima

Secara umum garis besar Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terdiri dari panel surya, pengaman DC,  Solar Charger Control (SCC), inverter, pengaman AC, dan jaringan rumah.

Sel-sel pada panel surya menerima paparan sinar matahari. Lalu, merubahnya menjadi energi listrik DC dengan voltase dan Ampere atau Watt Peak (WP) tertentu. Besarnya WP yang dihasilkan tergantung jenis dan besarnya sel surya.

Selanjutnya energi listrik DC yang dihasilkan oleh panel surya dikontrol oleh SCC sebelum disuplai sebagai input inverter melalui pengaman arus DC.

Arus yang masuk ke inverter dirubah menjadi tegangan AC 1 phase 220 Volt untuk kebutuhan listrik rumah tangga. Atau bisa juga tegangan AC 3 phase 380 Volt untuk kebutuhan industri. Selanjutnya hasil output tegangan AC 220 Volt dapat disalurkan ke jaringan rumah tangga dengan melalui pengaman listrik AC lebih dahulu.

Dalam mendesain panel surya, atap harus memperhatikan sudut arah panel surya. Tidak boleh shading (tertutup bayangan). Pemasangan dengan susun seri atau pararel, disesuaikan denan kebutuhan input tegangan Volt dan arus Ampere pada inverter.

Secara garis besar ada 3 sistem perancangan pada PLTS.

1. Sistem On Grid

Sistem pembangkit yang digunakan untuk mengurangi konsumsi listrik PLN. Sistem kerjanya yaitu hasil listrik tegangan DC panel surya langsung diinput ke inverter ( DC ke AC ). Hasil tegangan AC di pararel ke jaringan PLN di instalasi rumah. Sistem ini menggunakan jaringan listrik PLN untuk menyimpan hasil produksi PLTS.

Hasil produksi listrik panel surya bisa dimanfaatkan untuk konsumsi listrik di siang hari. Sisa produksi siang hari akan disimpan di jaringan PLN untuk dikonsumsi pada malam hari.

Beban PLN bulanan yang kita tanggung  atau bayar adalah permakaian kWh listrik selama sebulan dikurangi kWh hasil produksi PLTS selama satu bulan.

2. Sistem Off Grid

Sistem ini sering disebut juga PLTS Stand Alone atau sistem mandiri tanpa perlu koneksi ke jaringan PLN. Artinya sistem hanya disuplai oleh panel surya saja dan menggunakan baterai sebagai penyimpan tegangan DC yang dihasilkan panel surya. Kemudian dirubah menjadi tegangan AC dan bisa dimanfaatkan  sebagai pengganti listrik PLN

PLTS Off Grid umumnya dimaksudkan untuk melistriki daerah yang sangat terisolasi dimana jaringan listrik PLN belum ada. Atau mereka yang ingin benar-benar mandiri energi dengan tidak memanfaatkan listrik PLN.

Pada Sistem Off Grid  dibutuhkan baterai dalam jumlah banyak karena kebutuhan suplai DC semua tergantung berapa besar kapasitas baterai. Sehingga perlu investasi yang lebih mahal dari Sistem Off Grid.

3. PLTS Hibrid

Pengoperasiannya menggabungkan antara PLN ,baterai, dan bisa juga dari PLTD.  Tiga sumber ini bekerja saling mengganti apabila salah satu dari tiga sumber bermasalah.

Pada sistem ini, PLTS diharapkan berkontribusi secara maksimal untuk menyuplai beban pada siang hari. Apabila terjadi masalah, misalnya baterai drop, maka PLN atau PLTD bisa mengambil alih suplai listrik.

Penentuan kapasitas panel harus memperhitungkan kemampuannya dalam mengisi baterai pada saat menyuplai beban, jika radiasi matahari diatas rata-rata. Sistem PLTS Hibrid ini dimaksud menambah jam operasi atau pelayanan sistem yang ada dengan menggabungkan beberapa sumber.

Begitu juga dengan banyaknya panel surya yang di-install tergantung besarnya Watt yang ingin kita butuhkan.(*)

Related posts

Ika Unair Sidoarjo Terus Aktif Baksos demi Pengabdian kepada Masyarakat

IKA-UA-SDA

Kapolres Gresik Bersama Forkopimda Bersinergi dengan kepala Desa dalam penanganan Dampak covid 19

admin2020

New Normal Bukan Wis Normal

IKA-UA-SDA