Artikel

New Normal Bukan Wis Normal

Oleh: Rizki Daniarto S.IP

“Kalau melihat seperti ini saya merasa ngeri sendiri. Lha wong pakai masker saja belum fasih, belum sempurna, belum tepat, kok sudah berkeliaran, wira wiri, jalan-jalan ke tempat umum menyambut tatanan baru”

Pembatasan sosial berskala besar atau PSBB sudah usai. Banyak pihak yang melihat PSBB menjadi pengekangan sendi-sendi kehidupan.  Usai PSBB berganti dengan new normal. Saya sendiri lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia yang mirip-mirip padanannya: tatanan baru.

Sebelum menginjak tatanan baru, ada yang namanya masa transisi. Pemerintah daerah memunyai otoritas seberapa lama menerapkan masa transisi itu. Bisa seminggu, dua minggu, atau lebih lama lagi.

Jauh hari sebelum PSBB usai, banyak protokol kesehatan yang masih saja dilanggar. Contoh gampangnya penggunaan masker. Masih banyak masyarakat yang menggampangkan, mengabaikan, meremehkan, mengesampingkan, maupun tak peduli menggunakan masker.

Masker hanya jadi asesoris, hiasan, pelengkap penderita, dan sebagainya. Masker hanya menutup mulut saja. Padahal hidung pun punya hak untuk ditutupi. Masker hanya digantung di leher atau di dagu. Tali pun hanya sekenanya.  Parahnya saat berbicara masker dilepas.

Kalau melihat seperti ini saya merasa ngeri sendiri. Lha wong pakai masker saja belum fasih, belum sempurna, belum tepat, kok sudah berkeliaran, wira wiri, jalan-jalan ke tempat umum menyambut tatanan baru.

Ada anggapan yang salah mengenai tatanan baru di masyarakat. Seolah tatanan baru adalah pelonggaran kehidupan sosial. Terbebas dari pengekangan. Yang selama ini menjadi “tahanan rumah” berbulan-bulan, kini sudah bisa keluar dan bebas kemana saja.

Padahal, tatanan baru membuat kita harus tetap waspada. Harus ada pengetatan, tak boleh kendor. Waspada ini perlu karena ancaman gelombang kedua pandemi Covid-19 masih mengintai.

WHO Indonesia Situation Report yang diterbitkan 10 Juni 2020 lalu,salah satu poinnya menyebutkan mengenai tatanan baru. Menurut WHO, ada tindakan-tindakan yang tidak bisa ditawar untuk menentukan tatanan baru. Yaitu isolasi cepat dari semua kasus yang diduga dan dikonfirmasi. Perawatan klinis yang sesuai untuk mereka yang terkena Covid-19.

Kemudian, pelacakan kontak ekstensif dan karantina semua kontak. Setidaknya 80 persen kasus baru dilacak, dan kontaknya di karantina dalam 72 jam setelah konfirmasi. Setidaknya 80 persen kontak kasus baru dipantau selama 14 hari. Memastikan bahwa orang sering mencuci tangan; memakai masker di tempat umum dan tempat kerja; serta menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari yang lain.

Selain memberikan panduan apa saja yang harus dipenuhi jika Indonesia ingin menerapkan tatanan baru, WHO juga memberikan langkah-langkah perlindungan dasar untuk orang.

Langkah-langkah tersebut adalah sering-seringlah membersihkan tangan dengan menggosok sabun dan air berbasis alkohol. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut. Pertahankan jarak fisik, setidaknya 1 meter dari orang lain. Tinggalkan rumah hanya untuk kebutuhan esensial. Bila memungkinkan bekerja dari rumah. Jika keluar rumah, di tempat umum dan tempat kerja, kenakan masker kain (nonmedis).

Sementara itu, masker medis harus dipertimbangkan untuk populasi yang rentan, yaitu orang berusia lebih dari 60 tahun. Orang dengan kondisi yang mendasarinya (penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit paru-paru kronis, penyakit serebrovaskular, kanker, dan imunosupresi).

Mantan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19  Achmad Yurianto juga pernah mengatakan, tatanan baru ini perlu ada. Sebab, hingga kini belum ditemukan vaksin definitif dengan standar internasional untuk pengobatan Covid-19. Para ahli masih bekerja keras untuk mengembangkan dan menemukan vaksin agar bisa segera digunakan untuk pengendalian pandemi Covid-19.

Menurut Yuri, tatanan, kebiasaan, dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat inilah yang kemudian disebut sebagai tatatan baru alias new normal. Cara yang dilakukan dengan rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak aman, dan menghindari kerumunan.

Kita semua tak tahu apakah akan mengalami gelombang kedua atau tidak. Yang jelas, beberapa negara sudah mengalaminya. Apakah kita mau seperti mereka? Apakah kita mau terjun ke jurang yang lebih dalam? Apakah kita akan kian terpuruk? Semuanya tergantung kita. Butuh kenormalan untuk memikirkannya dan bertindak. Dan saat ini jelas bukan kondisi wis normal. Salam.(*)

*) Penulis dan editor, pemerhati ruang sosial, santri kebencanaan. Tulisan ini telah ditayangkan di Mingguan Neo Demokrasi Tahun I, Edisi 10, 16-30 Juni 2020

Related posts

Studi Meta-Analisis Mengenai Optimalisasi Corporate Social Responsbility dengan Menggunakan Social Networking Analisis

IKA-UA-SDA

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Ekonomi

IKA-UA-SDA

Sistem Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

IKA-UA-SDA