Kisah alumni

Kisah Inspiratif Dokter Puskesmas yang Juga Inovator

Dr. Arif Rahman Nurdianto, dr., M.Imun

Kepala Puskesmas Trosobo, Taman, Sidoarjo, dosen Stikes RS Anwar Medika

Tak banyak yang mengetahui jika Kepala Puskesmas Trosobo ini memiliki segudang prestasi yang cukup membanggakan. Apalagi di usianya yang masih muda, 33 tahun.

Dr.Arif Rahman Nurdianto, dr., M.Imun memimpin Puskesmas Trosobo sejak tahun 2019. Banyak perubahan yang ia usung selama bekerja di puskesmas ini.

Dokter yang sudah mengenyam pendidikan hingga meraih gelar doktor (S3) di Universitas Airlangga ini sudah banyak mengenyam pelatihan dan pendidikan. Baik informal dan formal. Dari deretan sertifikat dan penghargaan yang diperolehnya, cukup menunjukkan bahwa usaha tidak akan membohongi hasil.

Selain seorang dokter, ia juga sebagai inovator. Berbagai inovasi dibuat untuk menjawab permasalahan yang ada. Salah satunya aplikasi Sate Krembung (Sistem Antrean Terintegrasi Puskesmas Krembung) pada tahun 2018. Aplikasi ini ia buat saat menjabat sebagai dokter umum di Puskesmas Krembung. Sebuah bentuk inovasi pelayanan publik yang berbentuk aplikasi antrean online berbasis Android,

Dokter Arif dan tim berinovasi membuat aplikasi sebagai model antrean alternatif. Model ini digunakan untuk meningkatkan respon time pelayanan dan meningkatkan kepatuhan minum obat. Termasuk terhadap pasien HIV di Pukesmas Krembung. Pasalnya, puskesmas ini juga memiliki layanan Care Support and Therapy (CST) untuk orang dengan HIV/ AIDS (ODHA).

Awal dibentuknya Sate Krembung ini disebabkan banyaknya keluhan tentang kecepatan layanan antrean pasien di Puskesmas Krembung. Oleh sebab itu, dengan adanya aplikasi ini dapat meningkatkan kepatuhan mengambil obat terapi antiretroviral (ART) bagi penderita HIV. Selain itu, dapat mengurangi nomor antrean dan menurunkan tingkat Lost Follow Up serta meningkatkan kualitas layanan di Sidoarjo.

Bukan hanya pasien yang menderita HIV saja yang memanfaatkan aplikasi ini, Masyarakat di Kecamatan Krembung dapat memanfaatkannya sehingga warga tidak perlu mengantre terlalu lama di puskesmas. Warga cukup mengunduh aplikasi Sate Krembung di Playstore, lalu login menggunakan nama, NIK, nomor BPJS dan nomor kartu berobat. Semuanya tinggal centang saja.

Di dalam aplikasi terdapat poli yang dituju, mengisi jadwal berobat, dan keluhannya. Selanjutnya, langsung mendapatkan nomor antrean di layar Android dan tinggal simpan. Pasien tinggal menunjukkan nomor antreannya ke petugas puskesmas saat berobat.

Ketika jadwal berobat datang dan tunggu panggilan dari petugas, dokter akan melakukan pemeriksaan serta menjelaskan mengenai konsumsi obatnya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 20 menit bagi pengguna aplikasi. Sedangkan bagi pasien ODHA hanya membutuhkan sekitar 5 menit. Sebelum adanya aplikasi, pendaftaran dapat melalui WA atau SMS.

“Saat itu, prihatin melihat antrean yang lama bila kebetulan saat ramai. Seorang pasien berobat bisa mencapai 1-3 jam. Termasuk antreannya dan pengambilan obat,” kata Arif, sapaan akrabnya.

Pria murah senyum ini tidak hanya berinovasi pada sistem antrean terintegrasi saja, Ia terus mengembangkan pada sistem akses layanan kesehatan yang lain di PKM Krembung seperti Swalayan Kotak (Swadaya Layanan Konseling Obat Anti TB dan Kombipak), Kecubung (Krembung Peduli Calon Pengantin, Usia Subur, Ibu dan Keluarga), Maskulin (Masjid Sehat dengan Kunjungan Puskesmas Keliling).

Bahkan terdapat juga sistem layanan Jumanji (Jumantik Kecil Beraksi, Nyamuk Jadi Lari), Kresna (Krembung Siap Bencana) serta Cak Rahman Oke, akronim dari Cakap dan Ramah Lansia di Puskesmas Krembung dengan One Stop Shopping Kita Berkah.

Pengembangan aplikasi Sate Krembung saat ini sudah terdapat tambahan fitur baru “Pengajian” (Pengaduan Gangguan Jiwa). “Terdapat pula sistem layanan SMS Pria (SMS Post Rawat Inap) untuk memonitor dan mengevaluasi kondisi pasien seusai rawat inap,” jelas dokter kelahiran Sidoarjo ini.

Bahkan sebagai dokter PDP, ia juga menangani terapi HIV saat bertugas di Puskesmas Krembung. “Kerap kali juga menangani pelepasan pasien pasung dengan sharing program bersama Mbak Anjarwati yang saat itu sebagai pemegang jiwa di Krembung,” ingatnya.

Berkat inovasinya, ia menyabet juara pertama Tenaga Kesehatan Teladan Kabupaten Sidoarjo di tahun 2018. “Tahun 2018, mendapatkan juara pertama Nakes Teladan tingkat Kabupaten Sidoarjo,” ujarnya.

Sebelum menjadi Kepala Puskesmas Krembung, ia baru menjadi seorang PNS di tahun 2011 dan ditempatkan di Puskesmas Porong. Berbekal pengalaman di PKM Porong dan Krembung, ia dipercaya kembali menjadi Kepala UPTD PKM Trosobo di tahun 2019.

Sebagai Kepala Puskesmas, ia selalu memberikan ide kreatif dan menampung aspirasi dari tenaga kesehatan maupun kader kesehatan yang dinaunginya. Ia juga memotivasi tenaga kesehatan di wilayah dampingannya bahwa puskesmas menjadi ujung tombak dan bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat.

Puskesmas juga sebagai penjaga pintu (gatekeeper) kesehatan masyarakat. Karena itu, tenaga kesehatanya harus selalu semangat dan proaktif. Tidak hanya duduk di dalam ruangan tapi datang ke rumah-rumah warga langsung menyasar ke keluarga.

Selain memelihara dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif, ia bersama tenaga kesehatan PKM juga melakukan pendampingan ke posyandu-posyandu yang berada di wilayah dampingannya. Yang menarik adalah kegiatan di Posyandu Jiwa Desa Sambibulu Kecamatan Taman.

“Kepala desa bekerja sama dengan PKM Trosobo untuk memberikan perawatan, pengobatan, dan edukasi terhadap ODGJ di Desa Sambibulu,” lanjut dokter yang lulus pendidikan magister imunologi tersebut.

Terdapat 26 pasien ODGJ di Desa Sambibulu yang kerap kali hadir di Posyandu Jiwa yang berada bertempat di Kantor Desa Sambibulu, Taman. Kerja sama lintas sektor antara Tim Posyandu Jiwa dengan Terapi Okupasi Terpadu (Pojok Pitu) ini telah terjalin dengan Pemerintah Desa Sambibulu, kader kesehatan desa, dan tim PKK sehingga dengan kegiatan ini dapat meningkatkan taraf hidup mantan pasien ODGJ.

“Untuk pasien yang aktif sekitar 14 orang di Posyandu jiwa Desa Sambibulu. Bahkan ada yang sembuh dan sudah bekerja sebagai penjual cilok keliling,” ungkap Arif.

Kegiatan rutin posyandu jiwa di Desa Sambibulu ini secara rutin diadakan pada minggu kedua hari Kamis setiap bulannya.

Selain dukungan dari Pemerintah Desa Sambibulu, dokter Arif juga bekerja sama dengan Ikatan Alumni Unair Cabang Sidoarjo dan kader kesehatan Desa Sambibulu. Upaya ini untuk memberikan pembelajaran ketrampilan bagi mantan ODGJ sehingga menghasilkan karya. Karya pengolahan limbah platik dari mantan ODGJ di Posyandu Jiwa Sambibulu ini berupa kerajinan tas, bunga plastik, tempat pensil, bahkan batik jumput juga berhasil dibuatnya.

“Bahkan pernah mengajak ODGJ untuk berjalan-jalan dan mengikuti pameran hasil karyanya di Marvel City Mall, Surabaya,” ungkap doktor bidang immunologi ini.

Hal ini menunjukkan bahwa ODGJ juga dapat berkarya dan butuh perhatian dari masyarakat. Mereka juga berkeinginan untuk sembuh dan mencoba bangkit untuk mandiri. Bahkan dia juga mempunyai rencana akan membentuk 3 posyandu jiwa di desa lainnya.

Untuk mempermudah dalam memberikan penyuluhan dan komunikasi kepada warga sekitarnya, PKM Trosobo juga membuat channel YouTube, telekonferensi, maupun melalui media sosial Instagram yang dikemas dengan nama Cyber DBD. Tujuannya agar semakin banyak warga yang memahami pemberantasan sarang nyamuk dan mewujudkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.

Dokter Arif juga meraih 10 peneliti terbaik dalam Anugrah Karya Cipta Dokter Indonesia tahun 2019 yang diselenggarakan IDI Pusat dan Kalbe Farma.

Setiap hari Jumat, di PKM Trosobo mengadakan program Jumat Berhasil, dengan melakukan edukasi bagi pasien yang berada di ruang tunggu. Berbagai tema materi edukasi baik tentang PHBS, cara pencegahan penyakit Diabetes Mellitus atau kencing manis hingga sosialisasi ISPA dan TBC.

Pria yang masuk sebagai masuk dalam 40 kandidat kategori PNS Inspiratif di tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian PAN -RB ini mengatakan, saat ini hampir seluruh tenaga kesehatan melakukan refocusing dalam kuratif dan rehabilitasi penanganan virus di Kabupaten Sidoarjo.

Di masa pandemi ini ia kerap menulis artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal internasional yang masuk dalam kategori Scopus Q2 seperti “Effects of Hyperbaric Oxygen Therapy on Il-17, Fetal Body Weight and Total Fetus in Pregnant Rattus Norvegicus Infected With Tachyzoite Toxoplasma Gondii”.

Selain itu, tak lupa juga membuat edukasi edukasi masyarakat dengan mengisi webinar dengan beberapa universitas dan membuat video-video kreatif untuk penyuluhan dalam channel YouTube-nya yang ia beri nama “Arif Rahman Nurdianto” dan Tubinar.

“Dalam kegiatan inovasi diperlukan uji data dengan menggunakan statistik dan ilmiah sehingga hasilnya akan bagus,” pungkas dosen Stikes RS Anwar Medika ini. (*)

Sumber: Majalah ASA Edisi 11-2020

Related posts

Hidupnya Pernah Gagal dan Berantakan, Kini Jadi Orang Multitasking

IKA-UA-SDA

Ahmad Cholis Hamzah, Menulis untuk Keabadian

IKA-UA-SDA