Kisah alumni

Hidupnya Pernah Gagal dan Berantakan, Kini Jadi Orang Multitasking

Dimas Agung Trisliatanto merupakan anak laki-laki bungsu dari tiga bersaudara. Ia lahir pada tanggal 7 September 1990 dari sepasang suami-istri bernama Djoko Sutrisno dan Suliyah (almarhumah).

Lika-liku kerasnya hidup benar-benar membuatnya berjuang. Hingga akhirnya sampai ke titik tahapan sebagai pribadi yang berbeda. Masa lalunya begitu kelam. Hal tersebut dirasakannya ketika menginjak bangku kuliah S1 jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga.

Dimas mengenal sosok perempuan dan jatuh cinta padanya. Kemudian menjalani hubungan yang cukup lama. Sejak akhir tahun 2009 hingga 2013. Hubungan ini kandas karena tidak berjodoh. Tidak hanya itu, Kuliahnya juga berantakan. Tak jua lulus, membuatnya sempat depresi dan putus asa.

Kebingungan dan kekhawatiran melanda pikirannya. Masalah bertambah ketika dia hampir akan di-drop out. Pasalnya, dia melakukan kesalahan administrasi di tempatnya berkuliah.

Ditengah penyesalannya, dia meminta maaf kepada seluruh dosen dan staf di IIP FISIP Unair. Dimas bersumpah, kelak dia akan menjadi pribadi yang sukses dan mengharumkan nama almamater. Perlahan tapi pasti, dia mengubah mindset dan pola hidupnya.

Dimas menjadi lebih sering belajar dan membaca buku-buku serta jurnal-jurnal. Hingga dalam waktu 3 bulan dia menyelesaikan skripsinya. Walaupun ia terlambat lulus dengan masa studinya hingga 5,5 tahun dan IPK 2,97 (2009-2015).

Tidak hanya itu. Ternyata dia menyimpan “dendam” terhadap kegagalan masa lalu hidupnya. Dia mencoba memutuskan untuk melanjutkan studi S2 sesuai yang direkomendasikan oleh Drs. Koko Srimulyo, M.Si. Ia pun kembali ke bangku kuliah pada Program Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga pada tahun 2015.

Sambil menyelesaikan S2, ia bekerja di Bank BTPN Syariah sebagai Approval Officer. Kemudian, dia pindah kerja di PT. Jatim Taman Steel, Mfg. sebagai pegawai administrasi di Departemen Pemasaran. Tak lama kemudian dia harus resign karena fokus untuk menyelesaikan tesisnya. Apalagi, saat itu dia juga menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Himasepa-Unair).

Dalam waktu yang singkat, Dimas berhasil menyelesaikan studi S2 dengan masa studi 1 tahun 4 bulan dan IPK 3,86 (2015-2017). Dia pun mendapat julukan “Ketua yang Meninggalkan Anak Buahnya”. Pasalnya, saat menjabat Ketua Umum hanya sekitar 5 bulan saja Namun seluruh program kerja organisasi terselesaikan.

Pasca kelulusannya dari S2, dia mulai belajar dan terjun menekuni dunia penelitian dan literasi. Dia menjadi kutu buku dan pecinta jurnal ilmiah. Baginya tiada hari tanpa membaca, menulis, dan belajar.

Kemajuan yang sungguh fantastis diraihnya hingga saat ini. Dimas menjadi peneliti, penulis buku dan jurnal ilmiah, pengamat, pemerhati dan konsultan. Ia juga seorang organisatoris dan aktivis dalam beragam organisasi maupun lembaga.

Beragam pengalaman penelitian telah dia capai selama 3 tahun terakhir sejak tahun 2015 hingga 2018 bersama para profesor dan dosen. Baik dari Universitas Airlangga maupun di luar kampus,

Beberapa penelitiannya antara lain:

1. Riset Model Pengembangan Kompetensi Berbasis pada Orientasi Kinerja dan Kerja Tim di PT. Aneka Regalindo;

2. Riset Studi Pemangku Kepentingan dan Rencana Pelibatan Stakeholder terhadap Proyek SPAM Umbulan;

3.Studi Pengaruh Persepsi dan Kelayakan Terhadap Keberadaan SMK Mini di Provinsi Jawa Timur yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

4.Riset Etnografi Kesehatan terkait Penyakit Schistosomiasis di Dataran Tinggi Napu, Bada, dan Lindu Provinsi Sulawesi Tengah bersama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia;

5.Riset Acuan Pemetaan Sosial Wilayah Terdampak Tol Mojokerto-Jombang bersama Lembaga Penelitian dan Inovasi Universitas Airlangga.

6 Riset kolaborasi internasional bersama Asia University Taiwan mengenai Student Academic Performance.

Tidak sampai disitu saja. Pada tahun 2018 Dimas menikah dengan sosok perempuan yang dicintainya bernama Renny Dwi Setyowati. Belahan hatinya berprofesi sebagai perawat di Adihusada Cancer Center Surabaya. Pasangan muda ini kemudian dikaruniai anak perempuan bernama Dewinta Airlangga Trisliatanto.

Di tahun yang sama pula, Dimas juga melanjutkan studi S3 Program Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga. Dia direkomendasi oleh beberapa profesor dan dosen pengajar di Universitas Airlangga.

Pada tahun 2020 ini dia tengah melakukan penelitian disertasi yang disertai dengan nilai IPK 4,00 yang akan dia pertahankan hingga kelulusan. Dimas juga telah menelurkan karya tulis berupa buku berjudul “Privacy & Confidentiality: Bioetik dalam Kerangka General Education” (2019) yang diterbitkan oleh Airlangga University Press dan “Metodologi Penelitian: Panduan Lengkap Penelitian dengan Mudah” (2020) yang diterbitkan oleh Penerbit Andi, Yogyakarta.

Dia juga sering memublikasikan jurnal ilmiah mulai dari tingkat nasional terakreditasi Dikti hingga tingkat internasional yang terindeks ISI Thomson, Scitepress, Google Scholar, DOAJ dan lain sebagainya hingga Scopus. Dimas termasuk aktif dalam mengikuti berbagai konferensi dan simposium ilmiah internasional.

Sebagai organisatoris dan aktivis, dia mengikuti beragam organsisasi, antara lain:

1.Ketua Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia Koordinator Wilayah Jawa Timur (2016-sekarang)

2.Sekretaris Umum Pengurus Ikatan Alumni Universitas Airlangga Komisariat Pascasarjana (2018-2022)

3.Sekretaris Bidang Sosial Pengurus Ikatan Alumni Universitas Airlangga Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (2017-2021)

4.Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (2016)

5.Pembina Pramuka di SMPN 1 Taman, SDN Bohar, dan SDN Sidodadi 2 (2009-2015)

6 Pelatih Paskibra di SMA Wachid Hasyim 2 Taman (2009-2014).

Dimas bersyukur kepada Allah yang memberikan kenikmatan hidup yang luar biasa. Peluh perjuangan diubahnya menjadi buah keberhasilan dan kesuksesan. Moto hidup yang menjadi pegangannya adalah Man Jadda Wa Jada, Man Shabara Zafira, Man Saara Ala Darbi Washala, Fastabiqul Khairat, Nuun Walqolami, dan Al Waktu Atsmanu Minadz Dzahabi.(*zki)

Related posts

Kisah Inspiratif Dokter Puskesmas yang Juga Inovator

IKA-UA-SDA

Ahmad Cholis Hamzah, Menulis untuk Keabadian

IKA-UA-SDA