Artikel

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Ekonomi

Oleh: Drs. Ec. Ahmad Cholis Hamzah, M.Sc

Surabaya Raya yang meliputi Kota Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, seperti beberapa kota lainnya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, mengalami penyebaran Virus Corona. Akibatnya, ribuan jiwa meninggal dunia.

Virus ini menyebar dengan cepat, tidak mengenal batas negara dan mengakibatkan penurunan kegiatan ekonomi nasional maupun global. Sampai saat ini penyebaran virus ini sangat agresif. Jumlah orang yang terpapar maupun meninggal dunia seperti deret ukur, bukan deret hitung.

Di beberapa negara seperti Italia dan Spanyol, jumlah orang yang meninggal karena virus ini pernah mencapai 800 orang setiap harinya. Baru-baru ini, di Amerika Serikat pernah terjadi orang yang positif terpapar Virus Corona mencapai 50.000 per harinya.

Sampai saat ini belum satupun negara yang berhasil menemukan vaksin untuk membunuh Virus Corona ini. Seluruh negara di dunia belum bisa memastikan kapan penyebaran Virus Corona ini berhenti. Untuk sementara ini masih bersifat prakiraan saja.

Karena sifatnya yang tidak bisa diprediksi atau unpredictable, maka akibat ikutannya – di samping sektor kesehatan – sektor ekonomi juga tak bisa diprediksi. Maka perlu ada kebijakan antisipatif di berbagai bidang, termasuk ekonomi agar dampaknya di masyarakat bisa diatasi.

Pneumonia of Unknown Cause

Awalnya pada tanggal 31 Desember 2019 kantor WHO (Badan Kesehatan Dunia) di China melaporkan adanya kasus penyakit pernapasan yang tidak diketahui penyebabnya atau Pneumonia of unknown etiology (unknown cause) yang terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Satu bulan kemudian, persisnya tanggal 3 Januari 2020, WHO mencatat ada 44 kasus penyakit ini di Wuhan.

Otoritas China melaporkan bahwa secara klinis orang yang terpapar penyakit ini memiliki gejala demam. Beberapa orang di antaranya mengeluh kesulitan bernapas. Berdasarkan  penyelidikan awal dari Pemerintah China yang dilaporkan ke WHO, bahwa tidak ada bukti adanya transmisi penyakit dari orang ke orang. Laporan juga menyebutkan bahwa beberapa orang yang terpapar penyakit ini adalah pemilik toko atau penjual di pasar ikan dan binatang.

Penyebaran virus yang mematikan ini mengejutkan. Pasalnya, dari hanya 44 orang yang terpapar positif virus ini di Wuhan, sekarang menyebar ke seluruh negara di dunia. Per tanggal 13 Mei 2020 sudah ada 4,3 juta orang terpapar. Hampir 300 ribuan orang meninggal. Angka-angka itu melonjak tajam pada tanggal 27 Juni 2020. Tercatat sudah ada 9.633.157 orang yang positif terkena penyakit ini dan ada 490.481 orang yang meninggal dunia.

Jawa Timur Mengambil Alih DKI Jakarta

Ketika saya mengikuti diskusi Zoom yang diselenggarakan Ika Unair yang menampilkan beberapa guru besar, dosen dan mahasiswa, kita ditunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Salah satu pembicara, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Timur dr Joni Wahyuadi.

Dalam presentasinya, perkembangan Covid-19 di Jatim menunjukkan bahwa angka yang tinggi penyebaran Virus Corona paling banyak disumbang oleh Kota Surabaya Raya, yaitu Surabaya sendiri, Sidoarjo, dan Gresik, yaitu (kalau tidak salah) lebih dari 70 persen.

Provinsi Jatim (dan Surabaya Raya) ini tidak bisa memenuhi target perintah Presiden Jokowi (dalam rapat di Gedung Grahadi Surabaya). Jokowi memerintahkan agar dalam waktu dua minggu sejak acara rapat itu Jatim (Surabaya) bisa menekan angka penyebaran virus mematikan ini. Jatim menjadi provinsi nomor 1 di Indonesia menyalip DKI Jakarta jumlah orang yang terpapar Virus Corona.

Dampak Pandemi Corona terhadap Ekonomi

Seperti yang saya sebutkan d iatas bahwa pandemi ini tidak bisa diduga atau unpredictable kapan selesainya. Akibat ikutannya juga tidak bisa diduga dan menimbulkan ketidakpastian. Misalkan sektor ekonomi. Padahal salah satu syarat penting dalam kehidupan perekonomian suatu negara itu adalah soal kepastian atau certainty.

Ketidakpastian kapan kondisi ekonomi mulai normal, menyebabkan banyak sektor ekonomi terimbas. Beberapa sektor ekonomi yang terdampak pandemi ini antara lain industri manufaktur otomotif di bawah tekanan besar, karena ketergantungan mereka pada rantai pasokan global.

Industri garmen juga memberlakukan sistem pengurangan kepadatan karyawan dengan cara dua pekan kerja dan dua pekan libur. Hal ini guna mengurangi penyebaran Virus Corona dan berdampak pada menurunnya produksi, sehingga perusahaan bisa mengalami kerugian yang berujung PHK.

Sektor pariwisata dan penerbangan yang sepi penumpang dikarenakan adanya kebijakan social distancing, serta ritel non-makanan yang sepi pengunjung. Kedu,a media dan pers yang terhambat mencari konten dan berita. Ketiga, tingkat rendah, seperti industri sektor jasa hanya sedikit hambatan, yaitu order jasa yang menurun. Tetapi masih bisa diatasi dan tidak terlalu terpengaruh.

Sektor UMKM di Indonesia juga terkena dampak pandemi ini. Menurut Kementerian Koperasi dan UKM sebanyak 1.785 koperasi dan 163.713 pelaku usaha mikro kecil menengah terdampak. Kebanyakan koperasi yang terkena dampak Covid-19 bergerak pada bidang kebutuhan sehari-hari. Sedangkan sektor UMKM yang paling terdampak, yakni makanan dan minuman.

Peran Ika Unair Sidoarjo

Sehubungan dengan hal di atas, para alumni yang tergabung dalam Ika Unair Sidoarjo dapat mengambil peran yang signifikan. Mereka bisa secara bertahap membantu pemerintah dan masyarakat memulihkan perekonomian rakyat. Ika Unair bisa melakukan identifikasi masalah kemudian menganalisanya dan memberikan solusi yang riil kepada pemerintah (pemkab) dan masyarakat.

(*) Anggota Penasihat Ika Unair Cabang Sidoarjo.

Related posts

Sistem Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

IKA-UA-SDA

Studi Meta-Analisis Mengenai Optimalisasi Corporate Social Responsbility dengan Menggunakan Social Networking Analisis

IKA-UA-SDA

New Normal Bukan Wis Normal

IKA-UA-SDA